Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2014

Legenda / Asal-usul Desa Tenganan Bali

Gambar
Desa Tenganan merupakan salah satu desa yang berpenghuni orang Bali Mula atau Bali Aga (Bali Asli) alias Bali yang bukan berasal dari keturunan Kerajaan Majapahit.  Saat Majapahit menduduki Bali, penduduk asli Bali lari ke beberapa wilayah di Bali, di antaranya ke Desa Tenganan, Bali Timur. Bagaimana hikayat Desa Tenganan? Tersebutlah Tanah Tenganan sebagai pemberian Dewa Indra. Kisahnya bermula dari kemenangan Dewa Indra atas peperangan dengan Raja Mayadenawa yang otoriter. Dunia, karena peperangan itu, dianggap kotor, karenanya dibutuhkan upacara penyucian dengan kurban seekor kuda. Terpilihkan Oncesrawa, kuda milik Dewa Indra sebagai bakal kurbannya. Kuda yang dianggap sakti itu memiliki bulu putih dengan ekor warna hitam yang panjangnya sampai menyentuh tanah. Kuda yang diyakini muncul dari laut itu, melarikan diri ketika ia tahu bahwa dirinya akan dijadikan kurban. Dewa Indra kemudian menugaskan Wong Peneges, prajurit kerajaan Bedahulu, untuk mencari Oncesrawa . Orang-orang ...

Sejarah Bali Kuno (Baliaga) Sebelum Majapahit Datang

Warga Bali juga memiliki penduduk asli yang disebut Baliaga. Ketika Majapahit menduduki Bali, mereka lari di beberapa wilayah seperti Desa Trunyan , Pedawa, dan Tenganan. Bagaimana kisahnya?   Tak hanya saat ini, dulu pun Bali sudah dikenal sebagai Pulau Dewata. Bahkan sebelum kedatangan Majapahit. Waktu itu sebuah kerajaan muncul pertama kali di Bali yaitu sekitar 914 Masehi (Sumber: prasasti yang ditemukan di Desa Blanjong Sanur, berangka tahun 836 saka). Rajanya “Khesari Warmadewa” memiliki istana yang ada di Singhadwala. Khesari Warmadewa adalah Ugrasena pada tahun 915 M – 942 Masehi. Setelah meninggal, Abu dari jenasah dari raja Ugrasena dicandikan di Air Madatu. Ugrasena lalu digantikan oleh Jayasingha Warmadewa (960 M – 975 M). Dalam masa pemerintahannya, raja Jayasingha membangun dua pemandian di Desa Manukaya, yang letaknya sekarang di dekat istana negara Tapak Siring. Raja Jayasingha Warmadewa digantikan Raja Jayasadhu Warmadewa (975 M – 983 M). Setelah wafat beliau...

Legenda Asal-usul Surabaya

Kota Surabaya memiliki legenda yang berhubungan dengan Hiu dan Buaya. Seperti apa legenda tersebut? Sungai Kalimas dikuasai buaya. Semua makhluk air di sekitarnya tunduk padanya, demikian pula makhluk darat. Buaya menjadi penguasa yang kejam dan bengis. Dia memerintahkan agar setiap makhluk penghuni Sungai Kalimas memberi persembahan. Setiap hari dia minta disediakan makanan berupa ikan-ikan segar. Hal ini membuat semua makhluk air menjadi gelisah, tetapi mereka tidak berani melawan. Mereka tidak berdaya. Mereka hanya bisa pasrah. Suatu hari, datanglah seekor ikan hiu ke Sungai Kalimas. Hiu bernama Sura itu memasuki wilayah kekuasaan Buaya. Sura menyatakan diri sebagai raja di Sungai Kalimas. Sura tidak lebih baik dari Buaya. Sura juga meminta agar semua makhluk air di Sungai Kalimas memberi persembahan kepadanya. Hiu yang sama ganasnya dengan BuayaMerasa ada penyusup yang menduduki wilayahnya, Buaya menjadi marah. Buaya menjadi murka. Dia mendatangi Sura. Dia mengusir Sura. ...

Asal-usul Islam Wetu Telu

Mayoritas masyarakat Suku Sasak yang mendiami Pulau Lombok beragama Islam. Agama Islam sendiri mulai masuk ke pulau tersebut abad ke-16 akibat  penguasaan Lombok oleh orang-orang Jawa dan juga makasar. Konon, sebelumnya Suku Sasak telah menganut kepaercayaan Boda atau dikenal juga dengan Sasak Boda. Boda  tidak sama dengan Agama Budha karena orang sasak tidak mempercayai Sidharta Gautama sebagai sosok yang disembah. Kepercayaan ini lebih kepada animisme dan panteisme dimana pemujaan dilakukan terhada roh-roh leluhur dan dewa-dewa lokal. Awal mula kedatangan Islam ke pulau Lombok adalah seiring perkembangan Islam di Nusantara dan keruntuhan Kerajaan Majapahit. Masuknya Islam ke tanah Lombok diduga dibawa oleh pedagang-pedagang muslim yang berniaga di Lombok yang kemudian menyebarkan agamanya. Dalam Babad Lombok dijelaskan bahwa Sunan Ratu Giri memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke Indonesia bagian utara. Beberapa orang yang ditu...

Sejarah Candi Sukuh

Gambar
Candi Sukuh merupakan peninggalan bersejarah yang terletak di bagian barat kaki Gunung Lawu. Apa dan bagaimana sejarah Candi Sukuh? Candi Sukuh dibangun di atas bukit yang dipenuhi tetumbuhan hijau dengan bunga-bunga. Hutan pinus seolah memayungi Candi Sukuh. Sungguh sangat menenangkan. Bentuk arsitekturnya berbeda dengan candi-candi yang ada di tanah Jawa yang kaya dengan ornament dan relief. Candi Sukuh sederhana dengan relief yang tidak rumit malah mirip piramida terpotong yang ada di Mesir. Beberapa mengatakan bahwa Candi Sukuh mirip bangunan peninggalan suku Maya di Mexico. Kesan sederhana ini menarik perhatian penelitian Belanda Dr. W.F. Stutterheim (1930) di mana akhirnya berkesimpulan bahwa kesederhanaan ini karena Candi ini dibangun di masa menjelang keruntuhan Kerajaan Majapahit yang tidak memungkinkan membangun Candi yang monumental dan memakan waktu yang lama. Sementara itu kebutuhan mendesak untuk memiliki tempat pemujaan. Ditengarai posisinya yang menghadap ba...

Legenda Gunung Lawu

Kisah bermula pada akhir kerajaan Majapahit (1400 M) pada masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga . Dari Dara Petak lahir putra Raden Fatah , dari Dara Jingga lahir putra Pangeran Katong. Raden Fatah setelah dewasa beragama I slam , berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Dan bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Raden Fatah mendirikan Kerajaan Demak dengan pusatnya di Glagah Wangi ( Alun-Alun Demak ). Melihat kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semedinya didapatkannya wangsit yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak. Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan mel...

Legenda Seks Gunung Kemukus

Gambar
Gunung Kemukus, Sragen, Jawa Tengah antara lain terkenal dengan ritual mencari pesugihan. Caranya?  berhubungan seks dengan pasangan tidak sah. Bagaimana kisahnya? Tempat ritual ini berada di Gunung Kemukus tepatnya terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumber Lawang, Kabupaten Sragen, 30 km sebelah utara Kota Solo. Untuk mencapai daerah ini tidak terlalu sulit, dari Solo bisa naik bus jurusan Purwodadi dan turun di Belawan, dari situ di sebelah kiri jalan akan ditemukan pintu gerbang yang bertuliskan "Daerah Wisata Gunung Kemukus", dari gerbang tersebut kita bisa naik ojek atau berjalan kaki menuju tempat penyeberangan dengan perahu. Gunung Kemukus identik sebagai kawasan wisata seks karena di tempat ini orang bisa sesuka hati mengkonsumsi seks bebas dengan alasan untuk menjalani laku ritual ziarahnya, itulah syarat kalau mereka ingin kaya dan berhasil. Dalam suatu aturan yang tidak resmi diwajibkan bahwa setiap peziarah harus berziarah ke makam Pangeran Samudro se...

Asal-usul Pesugihan di Gunung Kawi Jawa Timur

Gambar
Mitos adanya pesugihan di Gunung Kawi diyakini banyak orang. Biasanya lonjakan pengunjung yang melakukan ritual terjadi pada hari Jumat Legi (hari pemakaman Eyang Jugo) dan tanggal 12 bulan Suro (memperingati wafatnya Eyang Sujo). Ritual dilakukan dengan meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan. Di dalam bangunan makam, pengunjung tidak boleh memikirkan sesuatu yang tidak baik serta disarankan untuk mandi keramas sebelum berdoa di depan makam. Hal ini menunjukkan simbol bahwa pengunjung harus suci lahir dan batin sebelum berdoa. Selain pesarean sebagai fokus utama tujuan para pengunjung, terdapat tempat-tempat lain yang dikunjungi karena 'dikeramatkan' dan dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk mendatangakan keberuntungan, antara lain: 1. Rumah Padepokan Eyang Sujo Rumah padepokan ini semula dikuasakan kepada pengikut terdekat Eyang Sujo yang bernama Ki Maridun. Di tempat ini terdapat berbagai pe...

Siapa Mbah Joego atau Mbah Jugo Gunung Kawi Jawa Timur?

Gunung Kawi Jawa Timur merupakan situs peninggalan sejarah yang namanya tidak dapat dilepaskan dari mitos pesugihan dan makam yang oleh publik dikenal sebagai Mbah Joego.Siapa Mbah Joego? Para peziarah yang berkunjung ke Gunung Kawi itu sudah barang tentu tidak dapat dilepaskan dengan sejarah orang yang dimakamkan di daerah atau di tempat itu. Namun demikian ke­nyataannya menunjukkan bahwa banyak peziarah yang datang ke daerah itu tidak mengenal siapalah sebenarnya yang dimakam­kan di lereng Gunung Kawi itu. Mereka pada umumnya hanya tahu bahwa yang dimakamkan itu adalah Mbah Djoego dan R.M. Imam Soedjono, tetapi siapa sebenarnya mereka itu banyak yang tidak mengetahui. Menurut sejarahnya, riwayat hidup Mbah Djoego yang nama aslinya adalah Kyai Zakaria II dapat ditelusuri ber­dasar surat keterangan yang dikeluarkan oleh pangageng Kantor Tepas Daerah dalem Kraton Yogyakarta Hadiningrat nomor 55/ TD/1964 yang ditanda tangani oleh Kanjeng Tumenggung Donoe- hadiningrat pada tang...

Sejarah Pantai Sanur di Bali

Gambar
Pantai yang menenangkan. Itulah Pantai Sanur yang terkenal akan pesona sunrise atau matahari terbitnya. Sesungguhnya, bagaimana asal mula ataupun sejarah hingga pantai ini demikian terkenal? Baiklah, saya akan mulai dengan sejarah jadul. kata "Sanur" dijumpai  dalam Prasasti Belanjong berangka tahun 835 Caka (903 Masehi). Nama desa Sanur ditulis saat Sri Kesari Warmadewa mengadakan penyerangan terhadap wilayah Alas Pategaling Magalak (Sanur) di bawah kekuasaan Ugrasena Raja Bali. Kata Sanur berasal dari kata Saha dan Nuhur, yg berarti memohon datang kepada suatu tempat. Sedangkan menurut para sesepuh, kata Sanur terdiri dari urat kata Sa artinya Satu (Tunggal) dan Nur artinya Sinar (Teja/Cahaya) yang artinya satu sinar mistik yg jatuh di suatu tempat dan tempat jatuhnya sinar mistik itulah menjadi nama Sanur sekarang.  Sanur dulu dikuasai  kaum Brahmana keturunan Danghyang Dwijendra. Para pendeta ini lantas menyaksikan Alas Pategaling Magalak seakan bersinar sehingga dise...