Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Tari Topeng Sidakarya atau Pajegan, Apa Itu?

Gambar
sumber foto: nusabali.com Seni pentas ritual Topeng Pajegan atau Topeng Sidakarya sangat terkenal di Bali. Ingin tahu lebih jauh tentang tari topeng ini?  Kadek Suartaya, SSKar, MSi, Dosen Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar menuliskannya untuk nusabali.com. Pertunjukan topeng yang umumnya dibawakan secara solo oleh seorang penari ini tidak hanya hadir dalam prosesi keagamaan di halaman utama pura namun juga  berfungsi dalam upacara perkawinan, potong gigi, hingga ritus ngaben.  Tema-tema kisah yang dibawakan bersumber dari babad, cerita semi sejarah, dengan puncak penampilan figur topeng berkarakter angker yang disebut Sidakarya. Mungkin karena itu, Topeng Pajegan juga disebut Topeng Sidakarya. Diantara sembilan tari Bali yang baru-baru ini diakui oleh Unesco, PBB, sebagai warisan budaya dunia, salah satunya adalah Topeng Sidakarya. Seni pertunjukan Wayang Wong,  Barong Kedingkling, dan Barong Berutuk misalnya, juga memakai tapel tapi tak pernah disebut sebagai ...

Tengkorak Zaman Pra Hindu Ditemukan di Buleleng, Bali

Gambar
foto: nusabali.com Lihatlah foto di atas. Inilah tengkorak yang ditemukan sudah membatu di Dusun/Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Kamis (14/4). Sebagaimana beritakan nusabali.com , dipastikan  pihak Badan Arkeologi Denpasar,  tengkorak ini berasal dari manusia zaman perundagian atau zaman pra Hindu. Dari penelitiannya sejak beberapa hari, Badan Arkelogi Denpasar menemukan sejumlah ciri-ciri dari tengkorak yang sudah membatu dan hancur tersebut. Antara lain, usia ratusan tahun, diperkirakan sudah ada sejak tahun 200 sebelum masehi. “Dari ciri-ciri bentuk dan struktur tengkorak, kuat indikasinya bahwa itu adalah tengkorak manusia zaman perundagian,” ujar Kepala Badan Arkeologi Denpasar, Gusti Made Suarbawa, Senin (18/4). Kata dia, karakter tengkorak di pinggir Pantai Desa Banyupoh ini, hampir sama dengan penemuan tengkorak di sekitar Pura Pabean, sekitar tahun 2000. Hal sama juga pada temuan tengkorak di sekitar Banjar Asem, Seririt dan Gimimanuk. Menurutnya,  p...

KIsah Nak Barak dan Pasukan Macan Gading dari Gianyar, Bali

Gambar
sumber: nusabali.com Pulau Bali penuh kisah unik yang bersangkut-paut dengan legenda. Kali ini kisah tentang Nak Barak dan Pasukan Macan Gading. Apa itu? Harian Nusa Bali menuturkannya dengan apik pada tanggal 27 April 2016.  Desa Pakraman Perean, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang, Gianyar merupakan desa hulu (paling utara) di wilayah Gumi Seni. Kepercayaan Desa tua yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bangli (Desa Sekaan, Kecamatan Kintamani) ini meyakini, 10 krama Desa Pakraman Perean jadi Pasukan Macan Gading. Krama adat di Desa Pakraman Perean mencapai 416 kepala keluarga (KK) dengan jumlah 1.515 jiwa. Mereka tinggal di satu banjar adat dan satu banjar dinas, yakni Banjar Perean. Dari 1.515 jiwa krama Desa Pakraman Perean itu, sebanyak 10 orang di antaranya menjadi Pasukan Macan Gading, Kenapa? Sepuluh (10) krama yang disebut jadi Pasukan Macan Gading ini sejak lahir hingga kakek-nenek berkulit dan berbulu kemerah-merahan. Bahkan, giginya juga kemerahan. Oleh warga setem...

Sejarah Jam Pasir

Gambar
sumber foto: rumah cempluk Orang dulu menandai waktu dengan melihat matahari atau bulan. Hanya saja keakuratannya kemungkinan terkendala cuaca sehingga mereka menciptakan alat seperti jam air dan jam pasir.  Menurut Wikipedia, asal-usul atau sejarah jam pasir masih kabur. Sebelum jam pasir sudah terdapat clepsydra atau jam air yang kemungkinan sudah ada sejak zaman Yunani Kuno.  Berdasarkan American Institute of New York , clepsammia alias jam pasir ditemukan di Alexandria sekitar 150 tahun sebelum masehi. Berdasarkan  Journal of the British Archaeological Association  jam pasir dipakai sebelum era St. Jerome (tahun 335 M), Gambarnya ditemukan di peninggalan kuno sarcophagus berangka tahun 350 M,  (perkawinan Peleus and Thetis), ditemukan Di Roma abad ke-18, dan dipelajari Wincklelmann abad ke-19.  Jam pasir pernah dipakai di Wesmister sebagai alat pengukur waktu untuk membunyikan bel guna memanggil aggota majelis pada pemungutan suara.