Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2016

Legenda Asal-usul Madura: Putri Tengger Lahirkan Raden Segara

Pulau Madura itu ada legendanya. Madura ternyata berasal dari kata Madu dan Ara. Madu ya Madu. Ara itu Tanah Lapang. Jadi Madura ada hubungannya dengan madu di tanah lapang. Juga, legenda Madura ternyata berhubungan dengan lokasi wisata terkenal yakni Tengger di Pegunungan Bromo. Kok bisa?   Alkisah kerajaan terkenal di Pegunungan Tengger namanya Medangkamulan dengan rajanya Prabu Gilingwesi yang sangat terhormat. Patihnya, Prabu Pranggulang sangat pandai dan cerdik.Prabu Gilingwesi memiliki putri cantik yakni Ayu Tunjungsekar yang tidak mau bersuami. Sang Prabu sangat resah namun menghargai pilihan putrinya.  Sampai pada suatu malam sang putri Tunjungsekar tidur dan bermimpi berjalan di kebun yang indah. Sayup-sayup terdengar tembang pangeran yang merdu merayu. Sang Putri sangat menikmati keberadaannya di kebun itu. Tiba-tiba bulan purnama muncul dari langit tanpa awan. Putri sangat terpesona. Seolah tahu sang putri sangat senang, bulan tersebut turun, makin dekat dengan sang...

Arosbaya Lengkapi Sejarah Madura

Gambar
foto: detik travel Salah satu tempat wisata di Madura yang sedang naik daun adalah Situs Aer Mata di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan. Ternyata, situs ini merupakan peninggalan penting dan berhubungan dengan Sejarah Madura. Bagaimana kisahnya?  Letaknya di sisi utara, sekitar 30 km dari arah Kota Bangkalan. Di sini terdapat situs makam Islam Kuno dengan arsitektur budaya Hindu-Budha.  Bangunan ini didirikan abad ke-15 atau 16. Sampai sekarang masih tersusun indah tanpa semen. Bahannya batu putih seperti pualam yang diambil dari sekitar makam.  Tiga cungkup utama makam berukuran 40x20 meter merupakan makan Ratu Ibu Syarifah Ambami, Panembahan Tjakraningrat II dan Tjakraningrat III. Ada pula makam Panembahan Tjakraningrat V, VI dan VII yang bergelar Tjakradiningrat I.  Makam Ratu Ibu dikelilingi pagar kayu dilapisi kain warna hijau.   "Gaya arsitektur dan seni ukir di Aer Mata mempunyai ciri khas perpaduan Hindu, Budha dan Islam," ujar Hasan F...

Aturan Pendakian Gunung Agung Sesuai Kepercayaan Lokal

Gambar
foto: kompas Dalam kepercayaan masyarakat setempat, Gunung Agung merupakan tempat bersemayamnya para dewa. Di Gunung tersebut terdapat istana dewa. Oleh karena itu, siapa pun pendaki Gunung Agung, sudah seharusnya mentaati aturan adat setempat, yakni: 1. Tidak Mendaki Saat Hari Besar Keagamaan Untuk menjaga kesucian Gunung Agung, para pendaki harap tidak melakukan aktivitas mendaki saat hari besar keagamaan, di mana umat melakukan pemujaan, baik di Pura Besakih maupun Pura Pasar Agung. Banyak pura di sekitar gunung agung letaknya lebih rendah dari jalur pendakian. Akan tidak etis bila para pendaki melakukan aktivitas pendakian, di atas sementara di Pura orang-orang sedang beribadah.  2. Perempuan Datang Bulan Dilarang Mendaki Perempuan datang bulan dianggap dalam keadaan kotor, bila mendaki akan merusak kesucian Gunung Agung.  3. Jangan Bawa Makanan dari Daging Sapi Sapi itu disucikan umat Hindu. Bila pendaki membawa bekal makanan berasal dari daging sapi, dipercaya dalam pend...

Sejarah Lawang Sewu

Gambar
foto: detik Salah satu gedung bersejarah di Semarang, Jawa Tengah adalah Lawang Sewu. Letaknya di Bundaran Tugu Muda, yang pada zaman Belanda disebut Wilhelminaplein. Dinamai Lawang Sewu karena gedung ini memiliki banyak pintu, meskipun tidak sampai seribu. Lawang berarti pintu. Sewu berarti seribu. Bagaimana sejarah atau asal-usul Lawang Sewu?  Dulu Lawang Sewu merupakan kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS, yakni jawatan kereta api. Pintunya sangat banyak dan jendelanya tinggi dan lebar seperti pintu. Masyarakat sering menganggap jendela ini sebagai pintu.  Pembangunan Lawang Sewu Semarang melibatkan dua orang arsitek asal Belanda Prof. Jacob F. Klinkhamer dan Bj. Queendag.  Pada awal pembangunan, gedung yang pertama kali dibuat adalah bangunan percetakan dan bangunan penjaga. Kemudian dilanjutkan perluasan sekitar pada tahun 1916 hingga 1918 dengan menambah jumlah bangunan dan ruangan. Pasca kemerdekaan RI, bangunan ini dipakai sebagai kantor Djawa...

Sejarah Terbentuknya Pulau Bali, Legenda Manik Angkeran

Gambar
Ternyata, menurut Legenda, Pulau Bali dan Pulau Jawa dulunya menjadi satu kesatuan. Kenapa lantas terpisah? Legenda Empu Sidi Mandra (disebut pula Sidi Matra) dan Manik Angkeran (disebut juga Manik Angkara) menjelaskan pada kita.  Alkisah, Brahmana suci Empu Sidi Mandra di daratan yang kini kita sebut Jawa dan Bali  memiliki anak bernama Manik Angkeran. Sang anak ini suka berjudi. Empu Sidi Marta prihatin dan menitipkan pada Brahmana Danghyang Nirartha alias Pedanda Bau Rauh. Danghyang Nirartha memerintahkan Manik Angkeran untuk bertapa di sebuah lubang di wilayah Pura Besakih. Lubang pertapaan itu konon terhubung dengan Gua Lawa di Klungkung. Manik Angkeran saat bertapa punya firasat akan ditemui naga Besukih dan dia merencanakan untuk meminta ajian agar selalu menang judi. Oleh naga Besukih dituruti. Manik Angkeran keluar dari pertapaan, tidak kembali ke Danghyang Nirarta, melainkan berjudi dan berjudi. Berkat ajian dari Naga Besukih, Manik Angkeran menang terus. M...